TRIBUNJAMBI.COM,

MUARA BUNGO – Bentrok massa suku anak dalam (SAD) pecah, Sabtu (21/1) sekitar pukul 8.00 Wib. Akibatnya 11 SAD dari kedua belah pihak mengalami luka parah.

Informasi yang didapatkan Tribunjambi.com di lapangan, kejadian berawal puluhan Suku Anak Dalam (SAD) asal Rimbo yang menetap di Dusun Senamat, Kecamatan Pelepat yang dikepalai temenggung Roni mendatangi SAD Bungo yang tinggal di Dusun Dwi Karya Bakti Rantau Keloyang Bungo yg dipimpin Temenggung Salim.

Bentrokan terjadi lantaran anak gadis SAD Rimbo dikawini oleh SAD Bungo. Gadis SAD itu dibawa lari ke Bungo tanpa memberitahu SAD Rimbo.

Sementara adat SAD, seorang perempuan tidak boleh tinggal dengan pihak laki-laki. Jika itu terjadi pihak laki-laki didenda adat. Saat itu, putusan adat dikenakan pihak laki-laki harus membayar Rp 3 juta. Namun mereka tidak mau membayar adat.

Hingga pihak SAD Rimbo mendatangi SAD Bungo untuk menjeput perempuan tersebut. Namun pihak SAD Bungo menolak untuk memberikannya. Ribut itu terjadilah bentrok.

Ratusan SAD yang menggunakan senjata tajam dan kecepek laras panjang ini mulai bentrok sekitar pukul 08.00 Wib hingga pukul 10.00 Wib. Bahkan saat polisi yang datang untuk memisahkan bentrok kewalahan, massa tidak menghiraukan polisi meski telah beberapa kali tembakan ke atas diledakan.

Kini kasus sudah ditangan Polres dan TNI. Saat ini hingga pukul 13.45 kedua belah pihak yang bentrok masih melakukan perundingan di Mapolsek Pelepat.