“21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Surat Ar-Rum ayat 21 [QS 30:21])” .

Setiap orang pasti merindukan untuk dapat memiliki pasangan hidup yang menjadi tempat mencurahkan segala keluh kesah, berbagi suka dan duka, melampiaskan rasa cinta dan sebagainya. Atau seringkali diungkapkan dengan istilah mendapatkan jodoh. Menurut Ustadz Fathoni, jodoh adalah seseorang yang saat ini mendampingi kita dalam berumah tangga, ketika kemudian bercerai maka bisa dikatakan orang tersebut bukan jodoh kita. Namun terkadang jodoh yang diimpikan, kehadiraannya tidak sama bagi setiap orang. Ada yang dimudahkan oleh Allah SWT dalam memperolehnya, ada pula yang sebaliknya.

Sulit atau mudahnya memperoleh jodoh dapat disebabkan oleh berbagai hal, namun yang sebagian besar karena diri kita sendiri. Kita seringkali mempersullit diri kita sendiri dalam mendapatkan pasangan hidup kita. Penetapan kriteria-kriteria yang sangat ideal, seperti: syarat calon pasangan hidup kita itu haruslah yang berwajah cantik atau tampan, berkulit putih, berpenghasilan tinggi, lulusan Universitas Luar Negeri dan sebagainya. Padahal, semakin tinggi kriteria yang kita tetapkan, maka pemenuhan persyaratan itu akan semakin sulit bukan?

Rasulullah SAW. Bersabda, “Perempuan itu dikawini karena empat perkara, yaitu: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Akan tetapi, pilihlah berdasarkan agamanya agar dirimu selamat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut memberikan gambaran mengenai kriteria-kriteria yang menjadi bahan pertimbangan seorang lelaki dalam memilih seorang perempuan sebagai isterinya. Kriteria-kriteria tersebut adalah kecantikan, keturunan, kekayaan, dan agamanya. Orang yang mengutamakan kriteria agama dijamin oleh Allah akan memperoleh kebahagiaan dalam berkeluarga.

Agama atau diin adalah keyakinan yang disertai peribadatan yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Bila keyakinan dan peribadatan yang dilakukan seseorang menyimpang dari ketentuan syariat Islam, orang yang melakukannya telah sesat. Untuk mengetahui ketataatan seseorang dalam beragama, kita harus berpedoman dalam ketentuan Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Rasulpun telah mengajarkan sebuah doa yang dipanjatkan dalam meminta diberikan pasangan yang sholeh oleh Allah SWT, yaitu: “Robbi Habli Jauzan Minassholihin” (Ya Allah, bimbinglahlah aku untuk mendapatkan pasangan hidup yang sholehah”

Jadi dapat disimpulkan bahwa acuan dalam memilih pasangan hidup:

  • Jangan memilih pasangan hidup berdasarkan ukuran fisik.
  • Jangan memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidup berdasarkan hitungan rasio / akal.

Dalam sebuah buku karangan Muhammad Thalib, disampaikan mengenai petunjukmemilih isteri, yang diantaranya sebagai berikut:

  • Taat beragama.
  • Dari Lingkungan yang baik.
  • Perawan.
  • Penyabar.
  • Memikat Hati.
  • Tidak bersolek ketika Keluar Rumah.
  • Amanah.
  • Tabah Menderita.
  • Bukan Pencemburu Buta.
  • Perangai dan kata-katanya menyenangkan.
  • Tidak Materialistis.
  • Hemat (Tidak Boros)
  • Besar Kasih sayangnya kepada anak kecil.

Agar kita dapat membentuk rumah tangga yang diridhai oleh Allah dan memperoleh kebahagiaan sepanjang hayat, tentunya hanya dapat diwujudkan apabila pasangan kita (jodoh) adalah orang yang taat menjalankan agama. Dan untuk memperoleh jodoh yang taat bergama, tentunya kita harus memperbaiki kualitas keimanan kita dengan makin meningkatkan ibadah kita, juga pengetahuan agama kita dengan jalan banyak membaca buku agama dan menghadiri pengajian. Banyak hadir di Majelis–majelis pengajian dan tempat dimana banyak disebut nama Allah juga akan memudahkan kita memperoleh pasangan hidup yang baik.

Allah telah berfirman dalam surat an-Nuur ayat 24; “26. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) “.

Wallahu a’lam bisshowab.

Advertisements